“Demimu, Sabtu, Minggu, Selalu kutunggu-Sebagai penghujung Rindu”
Entah ini Ujian, Hukuman, atau bahkan mungkin Kutukan.
Sejak Kepergianmu, Aku mulai menunggu dan tetap berharap,
dapat kabarmu setiap waktu, atau cukup sekali-sehari saja.
Sejak itu, aku berusaha tidak membiarkan hati, pikiran dan tubuhku
terjebak sunyi atas rindu yang slimuti jiwa.
Dipertengahan Minggu itu, Kau telah kabarkan padaku...
Kau tak lagi dapat mengabariku,
kecuali Sabtu petang hingga Senin pagi.
Sudah berat melepasm,
hilang kesempatan menjumpaimu sewaktu-waktu
Kini, untuk kabarmu saja, harus menunggu lebih dari separuh minggu…
Tuhan…
Jika ini Ujianku, Sekelas apakah Aku…?
Jika ini Hukumanku, Sebesar Apa kesalahanku?
Jika ini Kutukanku, Kutukan macam apa ini?
Kenapa tak Kau kutuk menjadi batu saja?
Sehingga, Sekeras itu pula Aku berjuang mempertahankannya…!
Padahal rindu tak terelakkan, hadir setiap waktu
tempat pulang segala rasa orang-orang sunyi,
bagaikan terhempas angin, awan, atau hujan
dengan selimut dingin yang menggigil,
bahkan panas yang begitu terik membakar ari.
Aku tak tau, Apa komentarmu atas Curhatan ini,
Tapi, Kuyakinkan padamu, bahwa Hatiku sudah sekeras batu…
Sebelum hingga kini bersamamu,
telah kureguk manisnya Madu, bahkan Pahit yang melebihi Empedu…
Telah kurasa perihnya Sembilu,
juga Indah dan kebahagiaan yang melebihi segala tawa dirumah sakit jiwa…
Melepasmu adalah perihku, untuk penghargaan bagi yang terdahulu,
Bukan untuk Kehormatanku,
tapi agar tak Menyakiti Dia (Yang mungkin masih belum tau)
Tapi, kini semuanya semakin maju, maju dan terus maju…
Membuatku terus menunggu, Sabtu, Minggu sebagai penghujung Rindu,
sebagai penyejuk hingga senin pagi…
Aku sudah tau dan telah menikmati segala Rasa…
Aku sudah Siap apapun Konsekwensinya…
Entah ujungnya menjadi Duka, Lara dan penuh Luka.
Tapi Bahagia dengan Segala Keindahan diAkhirnya,
adalah Harapan dengn kualitas tertingginya…
Menunggu sepanjang Minggu,
mungkin tak cukup membuktikan ketulusanku,
tapi, andaikan kau tau, “Rasanya” Menunggu giliran sapamu “diTelpon”,
Tersisih, Malu, Terabaikan…Sungguh Menyedihkan…
Cukuplah itu, sebagai dasar simpulanmu…
Aku tetap Mencintaimu,
Selalu Sayang dan senantiasa merindumu…
Menikahimu malam itu, adalah bukti keseriusanku…
Jakarta, 2011
Entah ini Ujian, Hukuman, atau bahkan mungkin Kutukan.Sejak Kepergianmu, Aku mulai menunggu dan tetap berharap,
dapat kabarmu setiap waktu, atau cukup sekali-sehari saja.
Sejak itu, aku berusaha tidak membiarkan hati, pikiran dan tubuhku
terjebak sunyi atas rindu yang slimuti jiwa.
Dipertengahan Minggu itu, Kau telah kabarkan padaku...
Kau tak lagi dapat mengabariku,
kecuali Sabtu petang hingga Senin pagi.
Sudah berat melepasm,
hilang kesempatan menjumpaimu sewaktu-waktu
Kini, untuk kabarmu saja, harus menunggu lebih dari separuh minggu…
Tuhan…
Jika ini Ujianku, Sekelas apakah Aku…?
Jika ini Hukumanku, Sebesar Apa kesalahanku?
Jika ini Kutukanku, Kutukan macam apa ini?
Kenapa tak Kau kutuk menjadi batu saja?
Sehingga, Sekeras itu pula Aku berjuang mempertahankannya…!
Padahal rindu tak terelakkan, hadir setiap waktu
tempat pulang segala rasa orang-orang sunyi,
bagaikan terhempas angin, awan, atau hujan
dengan selimut dingin yang menggigil,
bahkan panas yang begitu terik membakar ari.
Aku tak tau, Apa komentarmu atas Curhatan ini,
Tapi, Kuyakinkan padamu, bahwa Hatiku sudah sekeras batu…
Sebelum hingga kini bersamamu,
telah kureguk manisnya Madu, bahkan Pahit yang melebihi Empedu…
Telah kurasa perihnya Sembilu,
juga Indah dan kebahagiaan yang melebihi segala tawa dirumah sakit jiwa…
Melepasmu adalah perihku, untuk penghargaan bagi yang terdahulu,
Bukan untuk Kehormatanku,
tapi agar tak Menyakiti Dia (Yang mungkin masih belum tau)
Tapi, kini semuanya semakin maju, maju dan terus maju…
Membuatku terus menunggu, Sabtu, Minggu sebagai penghujung Rindu,
sebagai penyejuk hingga senin pagi…
Aku sudah tau dan telah menikmati segala Rasa…
Aku sudah Siap apapun Konsekwensinya…
Entah ujungnya menjadi Duka, Lara dan penuh Luka.
Tapi Bahagia dengan Segala Keindahan diAkhirnya,
adalah Harapan dengn kualitas tertingginya…
Menunggu sepanjang Minggu,
mungkin tak cukup membuktikan ketulusanku,
tapi, andaikan kau tau, “Rasanya” Menunggu giliran sapamu “diTelpon”,
Tersisih, Malu, Terabaikan…Sungguh Menyedihkan…
Cukuplah itu, sebagai dasar simpulanmu…
Aku tetap Mencintaimu,
Selalu Sayang dan senantiasa merindumu…
Menikahimu malam itu, adalah bukti keseriusanku…
Jakarta, 2011