Rabu, 23 Februari 2011

"CINTA ATAU PENGHARGAAN?"

CINTA ATAU PENGHARGAAN?

Pernahkah Kau Merasakan CINTA yang Begitu Besar dengan Rasa yang Begitu Dalam?

Kau Merasa bahwa Cintamu Begitu Tulus, bahkan Kau bersedia melakukan apapun untuk Cinta itu.
Mungkin Dia Benar, bahwa Cintamu Berlebihan, Tidak Masuk di Akal dan Irrasional…
Karena Sikapmu terkadang Konyol, Tindakanmu terkadang Bodoh…
Entah itu khas yang LUCU atau justeru Bikin MALU…

Ditengah Rasa atas Cintamu yang begitu Besar dan Dalam itu.
Kau seakan Buta, Tuli dan Juga Bisu…
Sebab HARAPANmu terlalu Tinggi, “DIA HARUS KAU MILIKI”.
Kau Bohongi dirimu dengan Menampikkan Kenyataan yang ada dihadapanmu!

Kenyataannya, Kau tengah dihadapkan dengan Situasi dan Keadaan yang begitu Sulit dan Memilukan.
Kenyataan atas Cinta yang Kau Rasakan dan Kenyataan atas Keadaan yang ada dihadapan
Kenyataan yang membuatmu LUPA, Meskipun tak Separah AMNESIA
Sebab Kau hampir tak bisa bedakan apakah Kau tengah Bahagia, Kecewa, Terluka atau mungkin sedikit Gila

Jika tak Cepat ambil Tindakan atau Keputusan, Maka Kau akan terjebak pada sebuah Pilihan
Hanya Sebuah Pilihan, yaitu Pilihan yang Mungkin akan sangat Menyakitkan
Sebab Hanya akan ada 2 (Dua) Pilihan, yaitu CINTA atau PENGHARGAAN.

Jika Kau Memilih Cinta, Maka Penghargaan hanya harapan...
Jika Kau Memilih Penghargaan, Maka Cinta itu Harus Rela Kau Lepaskan.
Sulit Bukan?

Ternyata, memang tak cukup hanya dengan Doa dan Berserah kepada Tuhan…
Tapi, Untuk Jalan yang lebih Terang menuju Akhir yang didambakan,
Kita Butuh Keberanian untuk Ambil Keputusan dan, dituntaskan dalam Tindakan
Perjuangan dan Pengorbanan tetap harus disertakan…


Buat yang Baca:
Tentu, Kau takkan pernah bisa Mengerti Maknanya, jika Kau tidak dalam Posisi itu, bahkan untuk mendiskripsikan CINTA dan PENGHARGAAN tersebut dalam Konteks ini, Kau tak akan Mampu...



Jakarta, 24 February 2011

Sabtu, 19 Februari 2011

"Mengeluh Membuktikan Bahwa Kita Tengah Lupa, Maka Sadarlah Secepatnya"

“Mengeluh Membuktikan bahwa Kita Tengah Lupa”



Kawan-kawanku…
Jiki Hari ini Kau Mengeluh Atas apa yang Kau Rasakan, apa yang Kau lihat dan yang Kau alami
Maka sesungguhnya Kau telah lupa atas apa yang kau ketahui dan dengan Dalam Kau pahami…
Jika Hal itu kini ada pada dirimu, Sadar dan Bangkitlah dari Keterpurukanmu…

Sabar dan tetap Semangat Kawan-kawanku...
Kita telah Lama dan BANYAK Berdiskusi bahkan Berdebat atas keadaan Saat ini...
Begitu Banyak Persoalan yg kini Muncul dipermukaan atas ulah Seronoh dan Keteledoran Pemerintah yang penuh Kuasa atas Perintah yg dikeluarkan dalam berbagai Titah, Bahkan Tidak sedikit dari Titahnya selain memperhebat kemiskinan, penderitaan dan segala Keterbelakangan juga Menyebabkan Rakyat Terpecah Belah...

Tapi KAWANku..
Takkan Terselesaikan Persoalan kita hanya dengan Meratapinya, sebab Penguasa ini terlalu Bengal dan dengan Hati dan Kepala Batunya, takkan Pernah peduli Nasib dan Kenyataan Rakyatnya.
Maka, Tidak ada Tawaran lain untuk Menyelesaikannya Kecuali dengan Terus Memperkencang Kerja massa Kita dalam Upaya Membangkitkan, Menggerakkan dan Menggorganisasikan Massa agar dapat bersama-sama Menuntaskan Perjuangan Atas penindasan yang sama...

Kawan-Kawanku…
Kusalutkan Semangat dan Kesabaranmu...
Telah Teruji Praktikmu, Terbukti Kerja kerasmu...
Yakin dan Kembali Teguhkan Dirimu...
Jutaan Massa Bersamamu...

Rabu, 16 Februari 2011

“Kepada Orang Tua, Keluarga, Kawan dan Kekasihku”


Kubiarkan segala Rasa atas dirimu memenuhi Hati dan Fikiranku.
Aku Sangat Bahagia dan Menikmati semua itu…

Walau Kutahu, Aku takkan pernah bisa dengan Semurna Menikmatinya,
Bukan Karena Engkau “Telah Memikirkan atau di Fikirkan” Selain Aku
Tapi Karena Dia (Penguasa) Telah Merampas Waktu dan Kebebasanku,
Bahkan Jaminan atas Hidupku dan Kelak Pada Keturunanku…

Persoalan itu, semua orang juga tahu, Karena ternyata, itu tidak hanya masalahku
tapi sudah menjadi persoalan pokok dari sebagian besar orang di Negeri Ini…
Karenanya, Total, Fokus dan Maksimal adalah Tuntutan Jalan keluarnya…
Abdikan diri, Serahkan tenaga dan fikiran bersama Massa mewujudkannya

Jika Esok, Lusa atau Seterusnya tiba-tiba Aku tiada,
Atau Kita tak lagi bisa bersua atau bahkan sekedar tukar Berita
Itu semua bukan karena Aku tak Cinta, tapi untuk yang lebih sempurna…
Tentu saja, kita semua tak Ingin lama-lama…

Kepada Ayah, Bunda, Saudara dan Semua Keluarga
Lepaskan Saya dengan bangga dan Doa-doa…
Kepada Kawan dan Sahabat Semua…
Mari tuntaskan tugas mulia dengan Perjuangan Gegap Gempita

Kepada Engkau yang kini dekat denganku
Meskipun harus Menunggu, harapan tetap ingin bersatu
Jangan sekali-kali kau Ragukan Cintaku
Sebab Rasa itu sepenuhnya untukmu…

Kepada Engkau yang slalu kupanggil Sayang…
Jika Benar Kau Harapkan itu,
Lapazkan dalam Doa dan setiap Ucapmu
“SEMOGA AKHIRNYA KITA BISA BERSATU”

Pegang Janjiku, Aku akan Selalu Mencintaimu…!!
Rindu, Kasih dan Sayangku Pasti Untukmu…!!



Jakarta, 17 Februari 2011
“Kanak Patju”

Selasa, 15 Februari 2011

Kenaikan Harga Pangan Salah Satu Faktor Terjadinya Tindak Kekerasan Dan Bangkitnya Geraka Rakyat Dunia

Kenaikan Harga Pangan Salah Satu Faktor Terjadinya Tindak Kekerasan Dan Bangkitnya Geraka Rakyat Dunia


Kenaikan harga pangan, kemiskinan dan Keterbelakangan dalam aspek lainnya adalah salah satu pemicu bangkitnya gerakan perlawanan Rakyat diseluruh Dunia. Krisis Pangan tentu akan menjadi Ancaman bagi Jutaan Rakyat Miskin diseluruh dunia. Berdasarkan data Food Price Watch Sejak Bulan Oktober 2010 hingga Januari 2011, harga Pangan Dunia telah Naik 15% dan diperkirakan tidak akan menurun. Selain itu, Sejak Juni 2010, Bank Dunia juga mencatat bahwa akibat kenaikan harga pangan tersebut telah Menyebabkan 44 juta orang jatuh miskin.

Ketidak mampuan Negera meretas kemiskinan dan menjamin ketersediaan Pangan dalam Negeri dengan harga terjangkau (Murah) selalu menjadi salah satu faktor yang menyulut gerakan rakyat diseluruh dunia, termasuk konflik horizontal antar Warga dan berbagai tindak kekerasan yang marak terjadi belakangan ini. Kesulitan yang dialami oleh rakyat diseluruh dunia dalam memenuhi kebutuhannya tentu akan sangat mempengaruhi emosional, psychology bahkan moralnya dalam menjalani kehidupan sosialnya sehari-hari. Ditengah persaingan yang keras dan keterbelakangan yang dalam tentu rakyat dari segala sektor, kelompok dan golongan bahkan individu sekalipun akan sangat riskan dengan konflik Horizontal antar warga.

Bagaimana dengan Indonesia yang terkenal dengan Kekayaan Alamnya yang melimpah Ruah? Terjaminkah Rakyatnya? Sejahterakah Rakyatnya?
Demikianlah pertanyaan yang patut digaris bawahi, atau bila perlu dipampang disetiap Instansi pemerintah, lembaga-lembaga sosial ataupun ditempat-tempat umum.

Ketika kita akan melihat kenyataan hidup rakyat diseluruh penujuru negeri ini secara konfrehensif (Menyeluruh), maka kita akan menemukan jawaban yang tepat dan objektif atas pertanyaan tersebut, sebab sadar atau tidak sadar, secara systematis pemerintah telah meletakkan Orientasi Produksi dalam negeri bukan untuk memenuhi kebutuhan domstik, melainkan untuk kebutuhan pasar dunia (Eksport), dilain sisi dengan kerjasama konfrehensif yang dibangun dengan berbagai negara (Bilateral ataupun Multilateral) dan kuatnya dominasi Kapitalis monopoli (Imperialisme) didalam negeri telah mebentuk ketergantungan Rakyat atas produk luar Negeri (Import) mulai dari kebutuhan pangan, rumah tangga hingga produk berteknologi tinggi. Artinya bahwa dengan kenyataan demikian tersebut, cukuplah menjadi Syarat kuat terjadinya pembodohan, pemeskinan dan penindasan terhadap rakyat.

Minggu, 13 Februari 2011

"Hari Kasih Sayang Ditengah Merosotnya Kehidupan Rakyat dan Massifnya Tindak Kekerasan"

 HAPPY VALENTINE DAY’S
14 Februari 2011
“PERKUAT PERSATUAN-CIPTAKAN PERDAMAIAN”


Perkembangan Dunia dan Kehidupan Manusia
Kenyataan objektif perkembangan dunia saat ini, ditengah situasi krisis umum Imperialisme yang semakin tajam, penderitaan rakyat atas jeratan ekonomi dan berbagai kesenjangan lainnya dalam Masyarakat terus diwarnai dengan berbagai tindak kekersan terhadap rakyat diselurh dunia.

Berbagai sektor tidak terlepas dari dampak krisis global yang terus digencarkan oleh Imperialis dengan melibatkan seluruh negara yang berada dibawah dominasinya untuk ikut bertanggungjawab dalam upaya penyelesaian krisis tersebut. Situasi tersebutpun telah menciptakan kegelapan bagi kehidupan dan masa depan rakyat diseluruh dunia. Kemiskinan masih menjadi masalah utama rakyat di dunia, sementara kekayaan dan kemakmuran hanya terkosentrasi di sedikit negara saja. Kekerasan dalam berbagai bentuknya, peperangan dan penghilangan bagi hak-hak politik rakyat. Berbagai upaya rakyat diseluruh dunia dalam memperjuangkan haknya terus dihadapi dengan berbagai tindak kekerasan bahkan dalam beberapa waktu terakhir kenyataan atas berbagai tindak kekerasan tersebut menunjukkan peningkatan yang significant baik di Eropa, timur tengah hingga ke wilyah Asia dan tak terkecuali di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, rakyat terus dihadapkan dengan berbagai tindak kekerasan dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus ataupun persoalan-persoalannya. Gerakan buruh yang selain dihapadkan dengan pemotongan upah juga tidak terhindar dari tindak kekerasan sebagai upaya pemerintah untuk memberangus gerakan buruh, pin demikian dengan buruh migrant, kasus kikim Komala sari dan Sumiati beberapa bulan lalu sebagai contoh yang kongkrit atas tindak kekerasan terhadapp Buruh Migrant dan, pastinya rakyat pekerja disektor lainnya juga dihadapkan dengan persoalan yang sama. Disektor Pertanian Justeru kenyataan tersebut lebih massif dilakukan baik oleh perusahaan swasta maupun pemerintah melalui Aparat polisi dan TNI yang sebagai alat kuasanya. Masih teringat jelas pada bulan Januari terjadi penembakan terhadap petani di Kecamatan Sanyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi yang terjadi akibat konflik antara petani dan PT. Wira Karya Sakti yaitu anak perusahaan dari Sinar Mas Group, menyusul kemudian hal serupa juga terjadi di Kampung Mendapo Jambi, lampung dan diberbagai daerah lainnya.

Fakta kekerasan di Indonesia juga tak dapat dihindarkan oleh pemuda mahasiswa disektor pendidikan. Pemuda mahasiswapun dalam menuntut hak-haknya acap kali dihadapkan dengan berbagai tindak kekerasan mulai dari penangkapan, pemukulan bahkan pembunuhan. Bebrapa waktu terakhir, di Kupang-NTT, pemuda mahasiswa yang menggelar aksi menyambut kedatangan SBY juga telah dihadapkan dengan kasus yang sama. Oleh aparat kepolisian, hampir puluhan mahasiswa terkena pukulan.

Tindakan repressive dan berbagai tindakan kekerasan semakin marak mewarnai perkembangan situasi politik dalam negeri akhir–akhir ini, bahkan secara beruntun kekerasan mengatasnamakan agama terjadi di Pandeglang, Banten dan Temanggung Jawa Tengah. Sangat disesalkan aparat keamanan seolah diam terhadap dua aksi kekerasan ini. Fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa pemerintah sangat mengabaikan aspek perlindungan bagi rakyatnya, bahkan kenyataan tersebut membuktikan bahwa pemerintah memang tidak pernah meperdulikan rakyatnya. Padahal Sesungguhnya, di negeri hukum seperti Indonesi (dengan alasan apapun) sangat tidak dibenarkan akan adanya tindakan kekerasan baik yang yang dilakukan oleh Individu, kelompok ataupun agama. Ironisnya, negara justeru mengabaikan hal tersebut bahkan kenyataannya negara juga seringkali melakukan tindak kekerasan terhadap rakyat dalam menyelesaikan berbagai kasus rakyat.

Pemerintah seolah lepas dari tanggung jawab terhadap aksi kekerasan di negeri ini bahkan dengan piciknya, sebagai upaya untuk menumpulkan, memecah belah persatuan bahkan untuk memberangus gerakan rakyat, pemerintah mengkambinghitamkan gerakan rakyat sebagai pemicu berbagai tindak kekerasan yang terjadi di Indonesia. Kenyataan tersebut telah semakin memperterang watak asli dari rezim hari ini, yaitu rezim kepala batu anti demokrasi dan anti rakyat, rezim yang sama sekali tidak memberikan ruang demokrasi bagi rakyat dengan jaminan kebebasan berkumpul dan berserikat seperti yang tercantum dalam konstitusi negara ini. Padahal peran dan tanggungjawab negara sangat penting untuk menciptakan ruang – ruang tanpa kekerasan dalam kehidupan masyarakat dengan memberikan jaminan perlindungan bagi rakyat.

Kekerasan demi kekerasan yang terjadi diseluruh dunia saat ini seolah menjadi sebuah hal yang biasa, namun jika tidak ada tindakan serius dari pemegang kekuasaan untuk menghentikan berbagai tindak kekerasan, maka rakyat yang terus menerus akan menjadi korban. Yang harus disadari bahwa, ditengah kehidupan rakyat yang semakin merosot saat ini, bangkitnya gerakan rakyat tidak akan pernah dapat dihentikan dan selalu menjadi ancaman bagi rezim penguasa yang anti terhadap rakyat.

Cinta Dan Kasih Sayang Adalah Keistimewaan Manusia
Cinta dan Kasih Sayang bagi manusia bukanlah sekedar rasa semata, namun hal tersebut adalah keistimewaan dari manusia selain akal dan fikirannya. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa terlepas satu sama lain bahkan hubungannya dengan makhluk lain yang ada disekitarnya. Cinta dan Kasih Sayang manusia tidak hanya dapat dilihat dalam hubungannya bersama pasangan atau dengan keluarga saja, namun manifestasi kongkrit dari keistimewaan tersebut selalu tampak dalam kehidupan sosial ditengah masyarakat baik dalam hubungan Intepersonal, Kelompok ataupun hubungan antar Ras, Suku, agama maupun antar golongan.

Saling tolong menolong, saling menghargai, toleransi dan solidaritas antar sesama adalah contoh sederhana dari terapan kasih sayang manusia dalam kehidupan sosialnya. Saat ini, ditengah kehidupan rakyat yang semakin merosot akibat kerasnya penghisapan Imperialisme dengan dominasi yang ditancapkan begitu dalam melalui kolaborasi jahatnya dengan Borjuasi Komprador dan dukungan kuat Kapitalisme Birokrat (Rezim Boneka) didalam Negeri, maka atas dasar kesamaan ketertindasan tersebutlah seluruh rakyat dapat bersatu untuk melepaskan diri dari ketertindasannya.

Momentum peringatan hari kasih sayang (Valentine’s Day) yang pada dasarnya bukan hanya sebuah peringatan yang terbatas pada ungkapan perasaan terhadap pasangan semata, namun secara labih luas, peringatan ini memiliki makna bagi kita untuk memberikan kasih sayang terhadap sesama manusia, tanpa adanya batasan suku, agama, ras maupun golongan. Momentum ini merupakan sebuah momentum yang sangat tepat bagi kita untuk melakukan kampanye melawan berbagai kekerasan dan persoalan lainnya yang dihadapi oleh rakyat di Indonesia khususnya dan rakyat dunia pada umumnya sebagai upaya untuk terus memperkuat persatuan dalam perjuangan untuk mewujudkan kehidupan rakyat yang damai, sejahtera, mandiri dan berdaulat.

Dengan maraknya berbagai tindak kekerasan yang dihadapi oleh rakyat saat ini, maka dalam momentum hari Kasih Sayang kali ini, Saya mengajak kita Semua Mengecam dan Mengutuk keras berbagai tindak kekerasan yang terjadi di Indonesia, baik yang dilakukan oleh Negara, Individu ataupun Kelompok tertentu yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Melalui momentum ini, mari kita terus perkuat persatuan dan terus berjuang bersama dan Mendesak pemerintah untuk: 1). Hentikan represifitas dan segala bentuk kekerasan terhadap rakyat, 2). bertanggungjawab atas berbagai kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia, 3). Mengusut tuntas berbagai kasus kekerasan yang terjadi (penembakan petani, Kasus Ahmadiyah dan Kasus Temanggung serta berbagai kasus kekerasan lainnya), 4). Memberikan jaminan perlindungan bagi Seluruh Rakyat Indonesia, 5). Memberikan jaminan kebebasan berserikat/berorganisasi dan mengeluarkan pendapat dimuka umum bagi rakyat, 6). Hentikan Perampasan Upah, Tanah dan Kerja, 7). Menyerukan kepada Seluruh Rakyat Indonesia untuk memperkuat Persatuan dan berjuang bersama Menciptakan perdamaian dengan Berjuang Menegakkan Hak Asasi Manusia dan Melawan segala Bentuk kekerasan.

Selamat Hari Kasih Sayang-Happy Valentine Day’s

Hidup Rakyat Indonesia!!
Jayalah Perjuangan Rakyat!

Kamis, 10 Februari 2011

Kekayaan Alam dan Tenaga Kerja Murah adalah Primadona di Indonesia


Kekayaan Alam dan Tenaga Kerja Murah Adalah primadona di Indonesia

Ironis Memang ketika Melihat dan Menyadari bahwa “NEGERI KAYA RAYA” Penyedia Sumber Pangan Dunia jika dihadapkan dengan Ketersediaan Pangan yang Lemah, apalagi harus mengalami Krisis Pangan (Kini Mengancam).

Benar bahwa Cuaca ataupun Geografis adalah salah satu Faktor dari Lemahnya Ketahanan Pangan, namun ada problem mendasar yang sesungguhnya menjadi penyebab Utamanya, Yaitu “Monopoli atas Tanah yang makin Meluas diseluruh Nusantara dan Alih Fungsi lahan dari produksi pertanian untuk kebutuhan pangan digantikan dengan Perkebunan ataupun Industri penyedia kebutuhan Energi, dll”.
Negeri yang dikenal Sebagai Negara Agraris dengan luas wilayah dan Kekayaan Alamnya serta dengan Jumlah Penduduk yang besar yang sesungguhnya menjadi Syarat Objektif Untuk Kemandirian Negeri ini, namun Faktanya  ternyata tidak mampu menjamin terpenuhinya Kebutuhan dan atau Kesejahteraan Rakyatnya.

Perkembangan Situasi dalam Negeri memang tidak akan pernah terlepas dari situasi umum Internasional.
Saat ini, Imperialisme yang semakin Kalut dengan Krisis didalam tubuhnya yang tak kunjung usai bahkan menunjukkan keadaannya yg semakin Akut dan Kronis. Situasi tersebut telah mendorong Imperialisme untuk semakin dalam menancapkan dominasinya dinegeri Jajahan, setengah jajahan dan Setengah Feodal untnk ikut bertanggungjawab menyelesaikan Krisis tersebut.

Indonesia sebagai salah satu Negara yang berada dibawah dominasi Imperialisme bahkan menjadi salah satu prioritas utama (Selain China & India) sebagai penopang utama pemulihan krisis tersebut. Dengan Pemerintah Rezim Boneka yang Berwatak Anti Rakyat, Seluruh Kekayaan alam dan Bahan mentah yang ada sepenuhnya telah dilimpahkan kepada Sang tuan (Imperialisme), bahkan Tenaga manusia (Rakyatpun) dijadikan Tumbal untuk memenuhi kehendaknya baik sebagai Tenaga kerja yang dibayar Murah atapun sebagai Korban berbagai Tindak kekersannya.

Faktanya Saat ini, Bagaimana Tidak, Rakyat terus mengalami Kemiskinan, Kesulitan mendapatkan bahan Makanan. Hal tersebut disebabkan karena seluruh Kekayaan, mulai dari bahan mentah hingga Produk jadi memang sudah dikuasai oleh Imperialis. Dengan Hegemoni Politik, Ekonomi dan Budaya yang ditancapkan untuk Memperkuat Dominasinya didalam Negeri telah Mengantarkan Rakyat Indonesia dalam keterbelakangan yang memilukan, Rakyat Indonesia telah dibentuk Ketergantungan atas Produk Luar Negeri (Import) Mulai dari Kebutuhan Rumah Tangga hingga Produk Berteknologi Tinggi, Selain itu Produksi dalam Negri diarahkan dengan Orientasi Eksport untuk Memenuhi kebutuhan pasar Dunia atau bukan samasekali untuk kebutuhan Domistik (Dalam Negeri).

Jadi, Melalui Paparan Singkat diatas dapat disimpulkan Bahwa, Problem Utama Rakyat Indonesia adalah Maraknya Perampasan “UPAH, TANAH dan KERJA”.
1). Perampasan Upah:
Membludaknya angka Pengangguran yang terjadi di Indonesia adalah suatu dampak dari System yang dijalankan secara Systematis oleh Rezim Boneka saat Ini. Menyediakan Cadangan tenaga kerja yang besar memang salah satu Upaya Pemerintah untuk Menjalankan Skema Politik “UPAH MURAH” didalam Negeri yang akan diserahkan secara Cuma-Cuma dengan Harga yang Murah untuk Menjamin Biaya Produksi yang rendah Bagi Sang Tuan (Imperialisme).

2). Perampasan Tanah
Benar bahwa Indonesia adalah Negara yang Luas dan memiliki Penduduk yang Besar dengan Mayoritas dari Penduduknya adalah Kaum Tani yang mencapai 65% dari total jumlah Penduduk Indonesia. Tapi Kenyataannya, Kaum tani samasekali tidak berdaulat atas atanahnya, bahkan saat ini sebagian besar kaum tani tidak memiliki tanah sehingga mereka terpaksa harus menjadi Buruh Tani (Tani Penggarap) karena Sebagian Besar tanah atau lahan Pertanian di Indonesia dikuasai oleh Segelintir Orang yaitu Borjuis Besar Komprador (Tuan Tanah Besar yang Berhubungan lansung dengan Imperialisme) ataupun oleh Negara Sendiri melalui Taman Nasional, PTPN, PERHUTANI ataupun TNI. Dilain Sisi, dalam Upaya monopoli atas tanah tersebut, Rakyat selalu dihadapkan dengan Berbagai Tindak Kekerasan ketika hendak Mempertahankan Tanahnya.

3) Tidak Tersedianya Lapangan Kerja yang Luas dan Merata.
Selain dengan Problem diatas, Rakyat Indonesia juga dihadapkan dengan persoalan sempitnya lapangan kerja yang tidak disediakan secara luas dan Merata. Disektor Industri khususnya, selain Persoalan upah Murah ataupun persoalan Pemotongan Upah, Buruh juga selalu dihadapkan dengan Ancaman PHK yang bisa datang setiap Saat sehingga memperlancar Sirkulasi ketersediaan Cadangan Tenaga kerja yang besar dan Murah, selain itu pemuda Desa yang telah kehilangan Tanahnyapun dihadapkan dengan Persoalan yang sama, pun demikian dengan Pemuda Mahasiswa yang samasekali tidak ada jaminan untuk Mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan Studynya. Pendidikan justeru dijadikan sebagai Corong Propaganda Imperialisme untuk memperkuat Dominasinya dengan hegemoni atas Kurikulum sesat yang diterapkan didunia pendidikan.

Untuk Menjawab sempitnya ketersediaan lapangan Kerja Pemerintah Menggembar-Gemborkan Pendidikan Entrepreneurship dengan gagasan agar Mahasiswa paska Kuliah dapat Membangaun Usaha sendiri (Ex: Kebiasaan Mencari Kerja diubah menjadi Kebiasaan Menciptakan Lapangan Kerja-Prinsip Kewirausahaan). Problemnya adalah, Bagaimana Rakyat akan mampu membangun Usaha sendiri ditengah Himpitan Ekonomi yang serba sulit. Tidak pernah dibongkar secara Terang bahwa Siapa yang telah Menguasai Modal ataupun Alat tenaga Produktif (Mulai dari Alat kerja, Sasaran Kerja) secara besar-besaran, sehingga Walaupun Rakyat mampu membangun Usahanya Sendiri, dapat dipastikan bahwa Rakyat tidak akan pernah dapat Bersainmg dengan Imperialis yang telah Memonopoli seluruh Aspek dasar Produksi tersebut.


Senin, 07 Februari 2011

BERSATULAH SELURUH RAKYAT INDONESIA!!


BERSATULAH SELURUH RAKYAT INDONESIA!!
TEGAKKAN HAK ASASI MANUSIA (HAM), LAWAN SEGALA BENTUK KEKERASAN DENGAN DALIH APAPUN, TERMASUK ATAS NAMA RAS MAUPUN AGAMA!!

“PENGANIAYAAN TERHADAP JAMAAH AHMADIYAH ADALAH SALAH SATU TINDAKAN ANTI-KEMANUSIAAN DAN MELANGGAR HAK ASASI MANUSI (HAM)”

Foto Penganiayaan Jamaah Ahmadiyah01
Wahai Saudara/i-ku…
Seberapa Jauh Kau Melihat Dirimu?
Seberapa Dalam Kau Mengenal Tuhanmu?
Seberapa Teguh Kau Meng-Imani Agamamu?
Seberapa Jauh Kau Memahami Kitabmu?

Lalu Bagaimana Kau Menjalankan Apa Yang kau Ketahui dan Yakini dan, Bagaimana Kau Mencari Apa yang tidak Kau Ketahui?


Foto Penganiayaan Jamaah Ahmadiyah02
Ketika 20 Orang diserang kemudian terpaksa Bertarung melawan Ribuan Massa adalah Peristiwa yang luar Biasa. Demikianlah yang terjadi di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, dimana Ribuan warga menyerang jamaah Ahmadiyah di Desa Umbulan di kecamatan tersebut. Peristiwa tersebut semakin diperburuk dengan Tindakan Penganiayaan terhadap Jamaah Ahmadiyah yang menyebabkan 3 (Tiga) Orang Meninggal Dunia.

Dengan Alasan Apapun, Tindakan tersebut adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Tindakan tersebut hanya didorong oleh rasa Panatisme yang hanya mengedepankan Eksistensi atas suatu keyakinan semata tanpa menghormati Nilai Kemanusiaan dalam Kehidupan Sosial berbangsa dan bernegara dan, hal demikianlah Tindakan Pelanggaran Hak Asasi Manusia atas Hak Manusia yang paling Mendasar.

Jika Peristiwa tersebut dipicu oleh Eksistensi suatu Keyakinan ataupun cara menjalankannya, Sesungguhnya Allah Swt telah Berfirman “Lakum Diinukum Waliadin.. Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku”. Petikan Ayat (Firman Allah) tersebut telah Menjelaskan kepada Setiap Hambanya bahwa Tidak ada Paksaan bagi Seseorang untuk Memeluk Suatu Keyakinan atau Agama, Agar Tidak Melakukan Suatu Tindakan diluar Arti Kemanusiaan dan Bertindak atas kehendak Sendiri yang didorong Oleh rasa PANATIK, IRI dan, DENGKI semata.

Dalam Hadis yang Berbeda, Rasulullah telah Menjelaskan kepada Para Sahabat agar disampaikan kepada seluruh Ummat bahwa dalam Kehidupan Dunia dan Akhirat, hanya ada dua Hubungan yang harus dipegang teguh yaitu, “HABLUMMINANNASS WAHBLUMMINALLAH: Hubungan Manusia dengan sesama Manusianya dan Hubungan Manusia dengan Tuhannya”. Artinya bahwa, hal utama yang harus dijaga dengan Baik adalah bagaimana sesorang dapat membangun Hubungan baik sesama Manusianya, baru menjalankan Hubungannya dengan Tuhannya.

Penggalan Hadist tersebut Menjelaskan bahwa bagaimana setiap manusia dapat menjalani hidupnya dengan saling melengkapi sesama manusianya, saling membantu dan saling tolong menolong sehingga benar-benar dapat menjalankan Perintah Tuhannya (Allah Swt) yaitu  “Ta’awanu ‘alalbirriwattaqwa, Wala Ta’awanu ‘Alal Itsmiwal ‘Udwan- Artinya: Saling Tolong Menolonglah kamu dalam kebaikan agar Kamu Bertawa dan janganlah Kamu saling tolon-menolong  dalam kejelekan dan membuat Kerusakan”,  kemudian Hablumminallah (Hubungan Manusia dengan Tuhannya) adalah suatu Hubungan setiap Individu dengan Tuhannya, sehingga tidak seorangpun berhak Mempertanyakan, Menginterpensi apalagi Memaksa seseorang dalam mennjalankan Keyakinannya.

Sesungguhnya, dalam kehidupan Sosial didunia ini akan sangat banyak hal yang mempertentangkan manusia yang satu dengan manusia lainnya karena setiap manusia memiliki kepentingan dan cara yang berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu dasar lahirnya suatu Negara yang dibentuk untuk mengakomodir, memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan dan kehendak rakyatnya agar tidak terjadi pertentangan antar sesamanya dan terbangunnya persatuan yang kuat antar sesama yang didasarkan atas kepentingan dan tujuan yang sama demi kehidupan sosial yang harmonis, Berdaulat dan sejahtera.

Nah, Berkaitan dengan Peristiwa Penyerangan dan Penganiayaan terhadap jamaah Ahmadiyah hari Minggu lalu, tentunya tidak bisa dipisahkan dari Peran Negara dalam Memenuhi kepentingan dan kehendak Rakyatnya baik terpenuhinya kebutuhan Materil maupun kebutuhan Spirituil. Peristiwa tersebut menunjukkan kelalaian Pemerintah dalam melayani dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Faktanya bahwa, Seiring perkembangan Krisis yang mengakibatkan meningkatnya angka Pengangguran, Kemiskinan dan Penderitaan Rakyat serta keterbelakangannya dalam aspek Budaya, Berbagai tindak kekerasan baik yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Rakyat maupun Bentrokan antar warga terus mewarnai perjalanan sejarah Negeri ini menuju keadaannya yang lebih maju yang akan tercermin dalam Kehidupan Rakyatnya yang Sejahtera, Adil dan Makmur.

Mari Saudara/i-ku semuanya, Bersatulah semua. Jangan Biarkan ada Sekat yang dapat memisahkan dan memmecahkan persatuan kita, 3 (Tiga) Musuh Rakyat (Imperialisme, Feodalisme dan, Kapitalisme Birokrat) adalah Musuh Utama yang harus dihancurkan Bersama-sama. Jenis Kelamin, Golongan, Suku, bangsa ataupun Agama bukanlah Pembeda untuk Mendapatkan Kesejahteraan Secara Ekonomi, Keadilan Secara Hukum dan Kebebasan dalam Mengembangkan Budaya.


Hidup Rakyat Indonesia!
Sejahtera dalam Kehidupannya, Damai dalam Perbedaannya, Harmonis dalam Persatuannya, dan Berdaulat atas Seluruh HAKnya-Itulah Hasil PERJUANGANNYA!