Jumat, 07 Januari 2011

“Kompilasi Puisi Sebagai Karya Sederhana, Persembahan Tahun Baru Buat Bunda”







SELAMAT TAHUN BARU 2011 BUNDA…
I LOVE YOU_SO MUCH!!
SEMANGAT DAN KESABARANMU
ADALAH INSPIRASIKU
TERIMA KASIH BUNDA…






  


Karya Sederhana, Persembahan Tahun Baru Buat Bunda”



Bunda…
Aku Tahu, Dalam doamu, selalu ada namaku.
Yang Bunda ucapkan, atau yang tak terucapkan selain dengan airmata.



Bunda…
Saat ini Aku tengah Terluka..
Sungguh tak ingin Aku sampaikan,
Namun Bunda, Pertahananku telah dirobohkan…
Karenanya Cerita itu harus kusampaikan…

Beginilah cerita itu mulai dari percakapanku



Bunda…
Aku lupa siapa duka, kepada siapa ia menderai luka..
Aku pun lupa siapa lara, kepada siapa nanar bicara..

Saat Bermula, Aku Pernah Katakan…
Hawa, aku adalah ular yang sedang belajar untuk setia,
Aku Berjanji akan Mencintaimu sepanjang usia tuhan



Bunda…
Aku Sungguh Mengaguminya
KuSerahkan Seluruh Kepercayaan Untuk Menebusnya
Tatapan jernih dari matanya,
Kulihat bagai nyala cinta, Sehingga rahasia tak pernah terbuka
Sebab Karena Mencintainyalah,
Segala hal kurasa tak perlu kupertanyakan



Bunda…
Pada matanya aku terpana..
Seketika pada dunia aku Alpa..
Padanya Aku Pernah Katakan…

“Di matamu, pernah kulihat cahaya berlarian, berlompatan, lalu jatuh di hatiku.
Bolehkah aku menginap di ingatanmu, atau menggenap di ganjil kerinduanmu?”



Bunda…
Dengan Cerita yang panjang, Perjalananku sudah cukup jauh..
Hari-hari sepanjang Cerita itu,
Penuh Kerinduan Sejauh Perjalananku
Namun, Sejauh dan Sepanjang Itu
Sedikitpun Aku tak Pernah Ragu



Bunda…
Pernah kurasakan kerinduan yang menyakitkan melebihi sayatan.
Bertengadah Aku Berdoa, Ditengah Malam yang Kelam
“Semoga rindu makin lihai membikin Alasan,
Mengemas malam-malam biasa jadi lebih Berkesan”.

Tapi Bunda…
Rinduku yang bagai lautan,
Kini menguap menjadi garam kepedihan
Dengan Luka lebar Menganga,
Perihpun tak Tertahan, Bunda…

Di dalam dada, terbentang luka semerah senja
Di sanalah kenangan beterbangan,
Di sanalah kutulis sajak-sajak kepedihan…



Bunda…
Aku telah sampai di jalan sunyi.
Berjalan menghitung perih, di antara kabut wajahnya,
dan hujan yang selalu menyanyi.

Dipenghujung 2010ku,
Cinta adalah senja terakhir bulan Desemberku.
Sementara tahun menua dan berakhir, Aku setia dalam getir.
Dialah kenangan, dan aku mengingatnya,
Dengan pedih luka penghabisan



Bunda…
Dengannya Aku Telah Bicara…
Aku Terima Dengan Segala Rahasia yang Tak pernah mau diBukakan
Kecewa Itu Selalu Ada,
Kututup Semua Luka dan,
KuSembunyikan Segala Hina…



Bunda…
Padanya Aku Telah Ingatkan,
Bahkan Berkali-kali sejak Dulu kukatakan
“Cinta itu pintu, Cuma kau sering lupa Kuncinya”.
Aku Telat Mengetahui,
Ternyata Padanya tersimpan Duplikatnya…

Ternyata, Kasus Pintu dan Kunci telah Menunjukkan Rahasiamu
Dan Kini Bagiku, Semua kata-katamu,
Tak lebih dari rumah dengan dua perapian,
Tempat hujan singgah sekadar mencari kehangatan…



Bunda…
Saat Dia Bertanya, Kembali Kukatakan Padanya…
Cintamu, Bagaikan Bunga yang bertahan satu musim,
Lalu kau pergi, memberiku hujan Terdingin, Bermusim-musim.
Kini Kau dan luka: Entah siapa yang akan lebih dekat dalam ingatan?



Bunda…
Dengan Segala Rasa dan Pedihku, Sempat ku Ucapkan…
Cintamu mengajariku membaca isyarat bulan,
Yang bemekaran di taman paling rahasia…
Waktu mungkin mampu menghapus airmataku,
Tapi tak akan pernah mampu menghapus kamu dan Luka itu..”

“Olehmu, Rinduku telah jadi Sepatu, di sepanjang perjalananmu.
Engkaulah udara, yang menjelma Menjadi Batu, di dadaku..
Hingga Sesak Nafasku, setelah Lima Tahun lalu…”



Bunda…
“Aku iri, kepada air yang tertusuk tapi tak terlukai…
Aku terpana, kepada udara yang bisa menelusup kemana saja

Mengingat Bunda, Aku melihat janji baik kehidupan…
Mendengar suara Bunda, Aku percaya akan kebaikan hati manusia…

Kini Kusadari, Aku Berada diKapal Besar
Bagaikan Rumah dengan Pagar Begitu Kokoh Melindungiku…
Pengaman disekelilingku, Begitu Kuat Menjagaku…
Taman Penuh Tanaman Keyakinan Terus Meneguhkanku…


Itulah Organisasiku…
Mereka Itulah Sahabat dan Kollektif juga Adikku…
Itulah Kini, Kapal Besar yang jadi Rumahku..
Merekalah Kini Saudara dan Keluarga Besarku…



Bunda…
Setiap sungai yang kutemukan berhulu di matamu,
Airnya bening memanggilku,
Menjelma ikan dengan segala jenis dari suaramu.
Tapi Aku batu, Bunda!



Bunda…
Ini Persembahanku,
Sebagai Bakti dan Hormatku Padamu…
Karena Kau Akan Selalu Nomor Satu,
Dalam Hati dan Hidupku, Bunda…

Curhatku Ini, Persembahan Tahun Baruku Untukmu…
Untuk Lepaskan Pilu dalam Hatiku,
Agar Aku mampu Tinggalkan,
Bersama Tahunku Yang telah Berlalu…



Bunda…
Kini Di Tahun Baruku…
Aku Ingin Hal Baru Dalam Hidupku…
Tunjukkan Padaku,
Apa, Siapa, Dimana dan Kapankah itu…



Bunda…
Padamu, Telah Kutemukan KESEMPURNAAN HAWA,
Meski Dengan Segala Kelemahan dan kekuranganmu.

Terus Mandikan Aku Dengan Doamu…
Tuntun Aku Dengan Bijakmu,
Dari Kesabaran dan Kesederhanaanmu…



Bunda…
Di kedalaman matamu kutemukan ladang kesabaran
Tempat tumbuh tegak pohon ketabahan…
Anugerahkanlah Padaku,
Sebagai Wahyu yang Nabi Manapun tak pernah dapatkan
Agar Aku tetap Kuat Bertahan..



Bunda…
Tunggu Aku, Tetaplah Menunggu…
Disuatu waktu aku akan pulang,
Sebagai kerinduan yang butuh hangat pelukanmu







Selamat Tahun Baru 2011 Bunda…
I Love You
Jaga Kesehatan dan Tetap Semangat…
Aku Anakmu Yang Selalu Berbakti dan Menghormatimu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tulis Komentar Anda